Gawat, Stok Alat Pelindung Virus Corona Menipis, Tenaga Kesehatan Semakina Terancam!

Gawat, Stok Alat Pelindung Virus Corona Menipis, Tenaga Kesehatan Semakina Terancam!

Posted on
Loading...

Harga APD kini mencapai Rp800 ribu sekali pakai, Juru Bicara Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan dr Erlina Burhan mengakui saat ini jumlah Alat Pelindung Diri (APD) semakin menipis bagi tenaga medis di rumah sakitnya. Menurut dia kondisi ini bisa menjadi ancaman bagi tenaga medis yang menjadi garda terdepan memerangi wabah virus corona atau COVID-19.

Saya dengar dari Pak Gubernur ada beberapa tenaga kesehatan yang positif COVID-19, bahkan satu perawat di RSCM meninggal dunia. Jadi kalau ada yang seharusnya panik, harusnya kami, karena kami yang di depan kami garda depan,” ujar Erlina dalam acara Indonesia Lawyer Club, Selasa (17/3) malam.

Loading...
  • APD menipis namun jumlah pasien virus corona terus meningkat

Erlina tengah khawatir jumlah pasien semakin meningkat, sementara APD menipis. Dia juga tak lupa mengucapkan terima kasih pada pihak yang mengulurkan bantuan kepada petugas kesehatan dengan menyumbangkan masker, menggalang donasi untuk masker, serta mengirimkan food truck untuk petugas kesehatan yang bertugas.

Masker N95 ini sempat hilang di pasaran, karena masyarakat memborong. Padahal masker ini untuk petugas bukan untuk masyarakat,” ucap dokter spesialis paru ini.

  • Baju pelindung seharga Rp800 ribu hanya sekali pakai

Selain masker, Erlina mengatakan, petugas yang menangani pasien virus corona harus memakai baju pelindung untuk menjaga agar tidak tertular pasien. Namun sayang penggunaan baju pelindung yang hanya sekali pakai ditambah harga yang mahal, membuat rumah sakit harus membayar lebih.

Baju pelindung setelah dipakai dibuang, harganya lumayan mahal dulu Rp200 ribu sampai Rp300 ribu, tapi sekarang naik Rp400 ribu bahkan Rp800 ribu. Sedangkan pasien sering meminta kami setiap saat, jadi bisa berapa dana yang dikeluarkan oleh rumah sakit untuk memenuhi pencegahan dan pengendalian infeksi,” terang dia.

  • Pemeriksaan di 12 laboratorium seharusnya sejak dulu

Selain APD, Erlina juga menyoroti kecepatan diagnosis pasien virus corona, karena selama ini hanya satu laboratorium yang berhak melakukan pemeriksaan.

Saat ini sudah ada 12 laboratorium, namun seharusnya dari dulu, sebab saya merasa ini jadi banyak yang tidak terdiagnosis. Jadi kita gak tahu berapa banyak sebetulnya orang-orang yang seharusnya diperiksa, dan barangkali kalau diperiksa bebas berjalan-jalan di masyarakat dan bahkan menularkan kita semua,” kata dia


Sumber: sebarin.today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *