Harus Tau! Ternyata Ini Alasan Mengapa Jumlah Pasien Corona di Indonesia Terus Bertambah!

Harus Tau! Ternyata Ini Alasan Mengapa Jumlah Pasien Corona di Indonesia Terus Bertambah!

Posted on
Loading...

Pencegahan corona harus dilakukan oleh semua pihak. Ini yang membuat semakin meningkatnya kasus corona di Indonesia

Masyarakat dan pemerintah harus bahu-membahu memutus rantai penyebaran virus corona. Karena jika salah satu saja yang berusaha, maka hanya akan berakhir sia-sia.

Loading...

Beberapa hari pasca Presiden Joko Widodo mengumumkan bahwa ada dua pasien positif virus corona pada tanggal 2 Maret 2020 silam, dalam beberapa hari jumlah pasien seakan merangkak naik.

Namun sejak minggu kedua bulan Maret 2020, pertambahan pasien terlihat lebih signifikan. Laporan terakhir pasien positif corona per 23 Maret 2020 pukul 12.00 adalah 579 kasus positif, 49 diantaranya meninggal dunia, dan 30 sembuh.

Laporan jumlah pasien positif Covid-19 sejak tanggal 2 Maret 2020. – Image from www.tagar.id

Dilansir dari laman Tagar.id, Redaktur Syaiful W Harahap menjelaskan apabila dikaitkan dengan pandemi, bisa jadi penularan corona sama halnya seperti fenomena gunung es.

Warga yang terinfeksi corona tidak menggambarkan penyebaran virus itu di masyarakat karena banyak faktor.

Misalnya, seperti keterbatasan melakukan contact tracing karena virus corona tidak mengenal batas teritorial atau administrasi, sebab sudah lintas negara di dunia.

Isolasi mandiri atau karantina di rumah

Salah seorang warga, sebut saja A, terinfeksi virus corona saat mengikuti sebuah acara yang diikuti oleh banyak orang.

Satu dua hari setelahnya, A belum merasakan gejala positif corona, namun di droplet ludahnya sudah ada virus, sehingga saat dia batuk dan bersin, maka ia membawa risiko penularan bagi orang-orang di sekitarnya, seperti keluarga, teman dekat, tetangga atau bahkan rekan kerja.

Saat A berobat dan hasil tesnya ternyata positif corona, maka jajaran pemerintah, dalam hal ini Kementerian Kesehatan melalui dinas kesehatan di tempat A tinggal, melakukan contact tracing*. Bisa saja orang-orang terdekat, seperti keluarga tidak tertular.

Namun, tak menutup kemungkinan A sudah pergi ke kota atau kabupaten lain bahkan di luar provinsi, sehingga yang tertular bukan keluarganya, namun orang lain yang tak terhingga jumlahnya.

Contact tracing merupakan usaha yang dilakukan terhadap penderita sumber penyakit menular, dengan menanyakan siapa saja yang telah ia tularkan agar bisa diusut.

Memang, informasi yang diberikan oleh A kepada dinas kesehatan di tempatnya tinggal akan disampaikan ke daerah lain tempat A melakukan kontak.

Misalnya, A sudah kontak dengan anggota keluarga, rekan kantor, dan anggota komunitasnya. Maka, dinas kesehatan bergerak cepat melakukan contact tracing pada orang-orang tersebut.

Namun, pada saat yang sama, adik A sudah melakukan kontak dengan teman-temannya di kampus, dan Ayah A sudah kontak dengan teman bisnis di Kota “X”.

Sedangkan teman A di komunitas sudah kontak dengan keluarganya di kampung. Dan rekan sekantor A sudah kontak dengan anggota keluarga.

Saat contact tracing di level keluarga, rekan sekantor dan komunitas, penularannya sudah ada di level kampung, kampus, Kota “X” dan keluarga, maka kontak pun terjadi lagi setelah level ini dan seterusnya.

Dinas kesehatan kemudian mencari informasi dari orang-orang yang kontak dalam kurun waktu 14 hari, hal ini tentu saja bukan hal yang mudah, karena bahkan bisa sampai ke luar kota.

Itulah sebabnya, pemerintah membuat klasifikasi Orang Dalam Pemantauan (ODP) dan Pasien dalam Pengawasan (PDP).

Yang termasuk ODP adalah orang-orang yang baru pulang atau datang (WNI dan WNA) dari negara-negara dengan wabah corona, dan juga orang-orang yang berkontak dengan pasien positif corona dengan gejala ringan.

**
Sumber: internetguy.xyz

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *