Lagi, ABK Kapal China Meski Alami Kelumpuhan hingga Meninggal dan Dilarung ke Laut, Kejam!

Lagi, ABK Kapal China Meski Alami Kelumpuhan hingga Meninggal dan Dilarung ke Laut, Kejam!

Posted on
Loading...

Lagi-lagi dugaan kekerasan di atas kapal dialami anak buah kapal (ABK) warga negara Indonesia (WNI).

Satu video tersebar di media sosial Facebook milik akun Suwarno Cano Swe memosting tiga video kolase aktivitas di atas dek kapal.

Loading...

Satu video memperlihatkan satu ABK dipapah ABK lain karena tak kuat berjalan

Video lainnya ada jenazah yang dibungkus dengan balutan kain.

Yang terakhir, video satu jenazah ABK yang dilarung ke laut.

Narasi di unggahan video itu yakni ‘detik-detik pelarungan ABK Indonesia yang dibuang ke laut Somalia oleh kapal China dengan nama kapal Luqing Yuan Yu 623 dan perbudakan sekaligus penganiayaan main pukul, tendang, pukul pakai pipa besi, botol kaca, dan setrum pelumpuh’.

‘ABK Indonesia sakit dipaksa kerja tidak punya prikemanusiaan,

kakinya lumpuh tidak bisa berjalan dan sampai meninggal dunia.

Rekan-rekan kerna ABK tersebut sekarang dipindah ke kapal Lu Huang Yuan Yu 115 padahal mereka inginkan pulang,

tapi tak diperbolehkan pulang’ begitu tulIs narasi yang menyertai video.

Koordinator Nasional Destructive Fishing Watch (DFW) Indonesia, Moh Abdi Suhufan, menyatakan setelah dirinya melakukan pelacakan, kejadian tersebut benar apa adanya seperti yang diunggah di media sosial.

Berdasarkan laporan pengaduan yang masuk di Fisher Centre Bitung pada tanggal 15 Mei 2020 ada informasi seperti itu,” ucapnya ketika dihubungi Tribunjateng.com, Senin (18/5/2020).

Pelarungan ABK Indonesia itu, kata dia, terjadi pada 16 Januari 2020 atas nama Herdianto warga Jakarta Barat.

Pelarungan terjadi di laut Somalia oleh kapal berbendera China.

Perlakuan ini mengarah kepada indikasi kerja paksa.

Herdianto yang dalam kondisi sakit tetap di paksa bekerja.

Kakinya mengalami kelumpuhan dan sampai akhirnya meninggal dunia,” jelasnya.

Atas insiden tersebut, DFW Indonesia meminta Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) segera melakukan koordinasi dan meminta keterangan pemerintah China atas kasus yang dialami ABK Indonesia atas nama Herdianto yang sakit dan meninggal.

Lalu, Kemenlu melalui KBRI Beijing untuk mengantisipasi kedatangan 22 ABK Indonesia yang merupakan rekan korban yang saat ini berada di kapal Luqing Yuan Yu 623.

Kapal tengah dalam perjalanan menuju Beijing.

Pemerintah mesti memastikan kesehatan dan memberikan perlindungan atas keselamatan para ABK Indonesia tersebut.

Terkait perusahaan penyalur ABK atau manning agent para ABK tersebut, Kementerian Perhubungan (Kemenhub), Badan Penyalur Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) dan Kementerian Tenaga Kerja (Kemenaker) saling bekerjasama untuk melakukan pengusutan.

Penyalur ABK tersebut berlokasi di Kabupaten Tegal, yakni PT MTB,” terang Abdi.

Menurutnya, agar kejadian serupa tak terulang lagi, perlu dilakukan pemeriksaan awal terhadap prosedur dan mekanisme serta kelengkapan dokumen ABK.

Misalnya, kontrak kerja, asuransi dan memastikan gaji selama mereka bekerja di kapal China tersebut telah dibayarkan oleh perusahaan atau pemilik kapal.

Mengingat kejadian ini merupakan peristiwa kedua dalam kurun waktu sepekan ini, yang menimpa ABK Indonesia yang bekerja di kapal China,

maka presiden perlu melakukan evaluasi secara total dan menyeluruh terhadap perjanjian dan kerjasama pengiriman ABK Indonesia yang bekerja di kapal ikan berbendera China,” ujarnya.

Abdi menuturkan Kejadian ini menjadi momentum bagi pemerintah untuk melakukan perbaikan tata kelola awak kapal perikanan yang bekerja di dalam dan luar negeri.

Khsususnya tata kelola ABK migran.

Pemerintah perlu secepatnya mengesahkan Rancangan Peraturan Pemerintah tentang Penempatan dan Pelindungan Awak Kapal Ikan dan Pelaut Niaga.

Selama proses evaluasi tersebut berlangsung, pemerintah perlu melakukan moratorium pengiriman ABK Indonesia untuk bekerja di kapal China,” imbuhnya. (mam)


Sumber: jateng.tribunnews.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *