Terungkap, Ilmuwan Sebut Virus Corona akan Lumpuh saat Musim Panas Tiba, Begini Hasil Penelitiannya!

Terungkap, Ilmuwan Sebut Virus Corona akan Lumpuh saat Musim Panas Tiba, Begini Hasil Penelitiannya!

Posted on
Loading...

Sejumlah peneliti memprediksikan virus corona COVID-19 takkan bisa bertahan lama saat musim panas menyambangi bumi belahan utara.

Hal ini diungkap oleh para ilmuwan dari University College London (UCL) Inggris.
Mereka menyebut bahwa pandemi virus ini akan mengikuti pola musiman sehingga kemungkinan akan berakhir ketika suhu menghangat.

Loading...

Dikutip Pikiran-Rakyat.com dari Telegraph, para ahli dari universitas tersebut mengindikasikan hal ini dalam studi terbaru mereka.

Pola musiman itu terdeteksi dari jenis virus corona yang menyebar. Polanya mirip influenza di Inggris.

Cuaca Bulan Mei yang lebih hangat Eropa dianggap mampu melumpuhkan virus sangat menular ini. Namun, tak sepenuhnya hilang. Saat musim panas tiba, jumlah kasus infeksi COVID-19 diduga akan menurun drastis hingga akhir tahun.

Penemuan kami mendukung pemikiran bahwa di Inggris, kita akan mencatat kasus yang lebih sedikit selama bulan-bulan musim panas.

Tetapi kondisi ini akan berbalik saat musim dingin tiba, jika memang masih ada pasien dalam jumlah besar saat itu,” ujar Dr. Rob Aldridge dari Institut Informatika Kesehatan UCL.

Studi itu dipublikasikan dalam Jurnal Wellcome Open sebagai naskah yang sedang diulas.

Mereka menggunakan data dari data studi kohort milik Komunitas Flu Watch yang melacak kasus flu dan virus corona antara tahun 2006 hingga 2011.

Dalam penelitian tersebut, peserta dihubungi berkala setiap minggu untuk melaporkan gejala sakit pernapasan yang mereka rasakan

Jika benar-benar sakit, uji swab pun dilakukan kepada setiap peserta.

Akhirnya, disimpulkan bahwa tiga jenis virus corona yang menyebar memiliki pola musiman serupa influenza.

Di wilayah dengan iklim sedang, banyak virus pernapasan mengikuti pola musim, memuncak saat musim dingin yang disebut juga sebagai ‘musim flu dan demam’.

Kami yakin pola ini sebagian besar dipengaruhi faktor lingkungan seperti suhu, kelembapan, dan cahaya matahari.

“(Faktor tersebut) berdampak terhadap ketahanan virus dan bagaimana sistem imun kita bisa merespon infeksinya.

Pola seperti itu juga dipengaruhi oleh kebiasaan kita, misalnya tendensi saat dingin,” jelas Ellen Fragaszy, peneliti dari Institut Informatika Kesehatan UCL dan London School of Hygiene and Tropical Medicine.

Masa-masa musim dingin sering dihabiskan orang Eropa di dalam rumah dalam kondisi jendela tertutup dan berkumpul.

Ini meningkatkan kemungkinan penularan dan penyebaran virus corona COVID-19. Selain itu, dalam penelitian terpisah dari Universitas Yale menyebut bahwa udara lembap selama musim panas juga membantu mengurangi risiko transmisi virus di udara.

Demikianlah pokok bahasan Artikel ini yang dapat kami paparkan, Besar harapan kami Artikel ini dapat bermanfaat untuk kalangan banyak Karena keterbatasan pengetahuan dan referensi, Penulis menyadari Artikel ini masih jauh dari sempurna, Oleh karena itu saran dan kritik yang membangun sangat diharapkan agar Artikel ini dapat disusun menjadi lebih baik lagi dimasa yang akan datang

**
Sumber: internetguy.xyz

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *